PERKEMBANGAN ORGANISASI BELAJAR
Pengembangan organisasi ini dilakukan dengan berbagai cara atau model, salah satu model itu adalah yang dikemukakan oleh Robert Blake dan Jane S. Mouton. Model ini bertolak pada delapan asumsi, yaitu :
1. Pengembangan itu meliputi perorangan, keanggotaan, dan organisasi yang semuanya terkait dan merupakan keseluruhan keseluruhan sistem pengembangan.
2. Perubahan yang efektif dan efisien perlu dilakukan secara sistematik dengan lebih dahulu menetapkan apa yang harus terwujud dalam waktu tertentu.
3. Perilaku manusia dan kegiatan organisasi saling berinteraksi yang mungkin dapat menghambat atau sebaliknya meningkatkan kinerja.
4. Pendidikan dan pelatihan harus terjalin agar pengembangan dapat efektif
5. Penalaran dan emosi saling berkaitan, karena itu kedua hal itu harus dimasukan dalam program pengembangan
6. Hubungan antara atsan dan bawaan dalam organisasi harus terbuka dan memungkinan komunikasi timbal balik.
7. Perlu diciptakanya peluang dari dalam organisasi sendiri untuk berprakarsa, dan tidak mengandalkan konsultan dari luar.
8. Setiap orang pada dasarnya ingin berpatisipasi atau terlibat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya.
yunita fatma 10470060 TEGNOLOGI PENDIDIKAN
Selasa, 15 November 2011
PERKEMBANGAN TEGNOLOGI PEMBELAJARAN
Serangkaian prinsip yang dijadikan landasan tegnologi pembelajaran adala :
1. Lingkungan kita senantiasa berubah. Perubahan itu ada yang direkayasa, ada yang dapat diperkirakan, namun sebagian besar tidak dapat kita ketauhi sebelumnya.
2. Jumlah penduduk semakin bertambah, meskipun dengan prosentase yang mengecil. Mereka semua perlu belajar, dan itu berlangsung seumur hidup dan dimana saja, dari mana saja.
3. Sumber-sumber sedekala (tradisional) semakin terbatas, karena itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan seoptimal mungkin. Kecuali itu harus pula diciptakan sumber baru, dan didayagunakan sumber yang masih belum terpakai.
4. Adalah hak setiap pribadi untuk dapat berkembang semaksimal mungkin, selaras dengan perkembangan masyarakat dan lingkungan.
5. Masyarakat berbudaya tegnologi, yaitu bahwa tegnologi maerupakan bagian yang tertanam dan tumbuh dalam setiap masyarakat.
Sedangkan pendekatan yang digunakan :
1. Pendekatan isomeritik , yaitu yang menggabungkan berbagai kajian/ bidang keilmuan (psikologi, komunikasi, ekonomi, manajemen, rekayasa tekhnik, dan lain lain) kedalam suatu kebulatan tersendiri.
2. Pendekatan sistematik, yaitu dengan cara yang beruruntan dan terarah dalam usaha memecahkan persoalan.
3. Pendekatan sinergitik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri.
4. Sistematik, yaitu pengkajian secara menyeluruh atau komprenhensif.
Serangkaian prinsip yang dijadikan landasan tegnologi pembelajaran adala :
1. Lingkungan kita senantiasa berubah. Perubahan itu ada yang direkayasa, ada yang dapat diperkirakan, namun sebagian besar tidak dapat kita ketauhi sebelumnya.
2. Jumlah penduduk semakin bertambah, meskipun dengan prosentase yang mengecil. Mereka semua perlu belajar, dan itu berlangsung seumur hidup dan dimana saja, dari mana saja.
3. Sumber-sumber sedekala (tradisional) semakin terbatas, karena itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan seoptimal mungkin. Kecuali itu harus pula diciptakan sumber baru, dan didayagunakan sumber yang masih belum terpakai.
4. Adalah hak setiap pribadi untuk dapat berkembang semaksimal mungkin, selaras dengan perkembangan masyarakat dan lingkungan.
5. Masyarakat berbudaya tegnologi, yaitu bahwa tegnologi maerupakan bagian yang tertanam dan tumbuh dalam setiap masyarakat.
Sedangkan pendekatan yang digunakan :
1. Pendekatan isomeritik , yaitu yang menggabungkan berbagai kajian/ bidang keilmuan (psikologi, komunikasi, ekonomi, manajemen, rekayasa tekhnik, dan lain lain) kedalam suatu kebulatan tersendiri.
2. Pendekatan sistematik, yaitu dengan cara yang beruruntan dan terarah dalam usaha memecahkan persoalan.
3. Pendekatan sinergitik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri.
4. Sistematik, yaitu pengkajian secara menyeluruh atau komprenhensif.
Senin, 14 November 2011
PERANAN MEDIA ELEKTRONIK TELEVISI TERHADAP PENDIDIKAN
Saran dari dampak televisi terhadap pendidikan
1. Usaha konstuktif dalam memanfaatkan tegnologi komunikasi untuk pendidikan ketahanan budaya dan moral, perlu dilakukan secara menyeluruh dan terkoordinasikan.
2. Semua pihak yang terlibat meliputi : pemerintah, penyelenggara siaran televisi dan radio swasta, penyedia bahan siaran, lembaga masyarakat dan organisasi sosial, pendukung dana, organisasi profesi, peneliti, pendidik, dan politisi wakil-wakil rakyat.
3. Peraturan yang ditujukan untuk membatasi adegan kekerasan dan kecabulan akan sulit ditegakkan kalau kita sendiri mempunyai persepsiyang berbeda tentang moral, etik dan estetika. Peraturan semacam ini memang tidak membendung siaran yang dipancarka dari luar negri, tetapi paling sedikit dapat mengurangi sasaran penyajian hanya kepada mereka yang mempunyai sarana tertentu.
4. Departemen dan lembaga negara seperti departemen pendidikan dan kebudayaan, departemen kesehatan, departemen tenaga kerja, departemen pariwisata, pos dan telekomunikasi, BKKBN, dan BP7, perlu berperan dan memberikan kontribusi dalam penyediaan program tayangan termasuk anggaranya.
5. Kalau pada tahun 1984-1987 departemen pendidikan dan kebudayaan dapat menyediakan anggaran untuk pembuatan program televisi untuk pendidikan watak bagi bagi remaja (serial ACI), tentunya dengan kenaikan anggaran dalam REPELITA IV yang akan datang, dapat dialokasikan lagi anggaran untuk keperluan semacam.
6. Dalam penyelenggaraansiaran televisi pendidikan sekolah seyogyanya ditujukan terlebih dahulu keada guru dengan tujuan :memahami kebijakan dan pembaharuan dibidang pendidikan, meningkatkan kemampuan profesional , mengenal karakter tegnologi komunikasi khususnya televisi sehingga siap untuk menjalankan perananya sebagai pengelola kegiatan belajar , serta memberikan kesempatan lebih besar dalam usaha meningkatkan kareier.
Saran dari dampak televisi terhadap pendidikan
1. Usaha konstuktif dalam memanfaatkan tegnologi komunikasi untuk pendidikan ketahanan budaya dan moral, perlu dilakukan secara menyeluruh dan terkoordinasikan.
2. Semua pihak yang terlibat meliputi : pemerintah, penyelenggara siaran televisi dan radio swasta, penyedia bahan siaran, lembaga masyarakat dan organisasi sosial, pendukung dana, organisasi profesi, peneliti, pendidik, dan politisi wakil-wakil rakyat.
3. Peraturan yang ditujukan untuk membatasi adegan kekerasan dan kecabulan akan sulit ditegakkan kalau kita sendiri mempunyai persepsiyang berbeda tentang moral, etik dan estetika. Peraturan semacam ini memang tidak membendung siaran yang dipancarka dari luar negri, tetapi paling sedikit dapat mengurangi sasaran penyajian hanya kepada mereka yang mempunyai sarana tertentu.
4. Departemen dan lembaga negara seperti departemen pendidikan dan kebudayaan, departemen kesehatan, departemen tenaga kerja, departemen pariwisata, pos dan telekomunikasi, BKKBN, dan BP7, perlu berperan dan memberikan kontribusi dalam penyediaan program tayangan termasuk anggaranya.
5. Kalau pada tahun 1984-1987 departemen pendidikan dan kebudayaan dapat menyediakan anggaran untuk pembuatan program televisi untuk pendidikan watak bagi bagi remaja (serial ACI), tentunya dengan kenaikan anggaran dalam REPELITA IV yang akan datang, dapat dialokasikan lagi anggaran untuk keperluan semacam.
6. Dalam penyelenggaraansiaran televisi pendidikan sekolah seyogyanya ditujukan terlebih dahulu keada guru dengan tujuan :memahami kebijakan dan pembaharuan dibidang pendidikan, meningkatkan kemampuan profesional , mengenal karakter tegnologi komunikasi khususnya televisi sehingga siap untuk menjalankan perananya sebagai pengelola kegiatan belajar , serta memberikan kesempatan lebih besar dalam usaha meningkatkan kareier.
STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Strategi Pendidikan yang Bersifat Makro
Strategi pendidikan yang bersifat makro biasa dilakukan oleh para pengambil keputusan dan pembuat rencana pendidik (aducation planner) atau dalam hal ini adalah pemerintah. Strategi makro ini memiliki cakupan luas dan bersifat umum, artinya bukan dilakukan oleh satu atau segelintir orang saja, namun melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Strategi yang diusulkan terdiri dari tiga komponen utama, yaitu tujuan, dasar, dan prioritas dalam tindakan.
1. Tujuan
Segala gagasan untuk merumuskan tujuan pendidikan di dunia Islam haruslah memperhitungkan bahwa kedatangan islam adalah permulaan baru bagi manusia. Islam datang untuk memperbaiki keadaan manusia dan menyempurnakan agama.
2. Dasar-dasar Pokok
Dasar-dasar pokok pendidikan islam, yaitu :
a. Keutuhan (syumuliyah)
Pendidikan islam haruslah bersifat utuh, artinya memperhatikan segala aspek manusia : badan, jiwa, akal, dan rohnya. Pendidikan dalam rangka pengembangan SDM, ditemukan al-Quran, menghadapi peserta didiknya dengan seluruh totalitas unsur-unsurnya. Al-Quran tidak memisah unsur jasmani dan rohani tetapi merangkaikan pembinaan jiwa dan pembinaa akal, sekaligus tidak mengabaikan jasmaninya
b. Keterpaduan
Kurikulum pendidikan islam hendaknya bersifat terpadu antara komponen yang satu dengan yang lain dengan memperhatikan hal berikut : (1). Pendidikan haruslah memberlakukan individu dengan memperhitungkan ciri kebribadianya : jasadnya, jiwa akal dan roh.(2).
c. Kesinambungan / Keseimbangan
Pendidikan islam haruslah bersifat kesinambungan dengan memperhatikan aspek-aspek berikut : 1) sistem pendidikan itu perlu memberi peluang belajar pada tiap tingkat umur, tingkat persekolahan dan setiap suasana.2) sistem pendidikan islam itu selalu memperbarui diri atau dinamis dengan perubahan yang terjadi.
d. Bersifat ilmiah
Pendidikan islam haruslah memandang sains dan tegnologi sebagai komponen terpenting dari peradaban modern, dan memberi perhatian khusus ke berbagai sains dan teknik modern dalam kurikulum dan berbagai aktivitas pendidikan, hanya ia harus sejalan dengan semangat islam.
e. Bersifat Prakital
Kurikulum pendidikan islam tidak hanya bisa bicara secara teoritis saja, namun ia harus dipraktekan. Karena ilmu tak akan berhasil jika dipraktekan atau realita.
3. Prioritas dalam tindakan
a. menyekolahkan semua anak yang mencapai usia sekolah, dan membuat rancangan agar mereka memperoleh pendidikan dan ketrampilan.
b. Penganekaragaman jalur pengembangan disemua tahap pendidikan dan pembimbingnya ke arah fleksibel.
c. Meninjau kembali materi dan metode pendidikan (kurikulum) supaya sesuai dengan semangat islam dan ajaran-ajaranya, dan bagi berbagai kebutuhan ekonomi, teknik, dan sosial.
d. Administrasi dan perencanaan. Pada tahap administrasi patutlah dimudahkan hubungan yang fleksibel pada administrasi, pembentukan teknisi-teknisi yang mampu, dan mempraktekan sistem desentralisasi.
B. Strategi Pendidikan yang Bersifat Mikro
Maksudnya dalam pelaksanaan strategi pendidikan yang bersifat mikro adalah dalam pelaksanaanya yaitu secara individu. Ruang lingkup strategi ini lebih menitikberatkan pada strategi yang harus dilakukan oleh individu seorang muslim pakar-pakar dalam bidang pendidikan memusatkan pada metode tazkiyah.
A. Strategi Pendidikan yang Bersifat Makro
Strategi pendidikan yang bersifat makro biasa dilakukan oleh para pengambil keputusan dan pembuat rencana pendidik (aducation planner) atau dalam hal ini adalah pemerintah. Strategi makro ini memiliki cakupan luas dan bersifat umum, artinya bukan dilakukan oleh satu atau segelintir orang saja, namun melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Strategi yang diusulkan terdiri dari tiga komponen utama, yaitu tujuan, dasar, dan prioritas dalam tindakan.
1. Tujuan
Segala gagasan untuk merumuskan tujuan pendidikan di dunia Islam haruslah memperhitungkan bahwa kedatangan islam adalah permulaan baru bagi manusia. Islam datang untuk memperbaiki keadaan manusia dan menyempurnakan agama.
2. Dasar-dasar Pokok
Dasar-dasar pokok pendidikan islam, yaitu :
a. Keutuhan (syumuliyah)
Pendidikan islam haruslah bersifat utuh, artinya memperhatikan segala aspek manusia : badan, jiwa, akal, dan rohnya. Pendidikan dalam rangka pengembangan SDM, ditemukan al-Quran, menghadapi peserta didiknya dengan seluruh totalitas unsur-unsurnya. Al-Quran tidak memisah unsur jasmani dan rohani tetapi merangkaikan pembinaan jiwa dan pembinaa akal, sekaligus tidak mengabaikan jasmaninya
b. Keterpaduan
Kurikulum pendidikan islam hendaknya bersifat terpadu antara komponen yang satu dengan yang lain dengan memperhatikan hal berikut : (1). Pendidikan haruslah memberlakukan individu dengan memperhitungkan ciri kebribadianya : jasadnya, jiwa akal dan roh.(2).
c. Kesinambungan / Keseimbangan
Pendidikan islam haruslah bersifat kesinambungan dengan memperhatikan aspek-aspek berikut : 1) sistem pendidikan itu perlu memberi peluang belajar pada tiap tingkat umur, tingkat persekolahan dan setiap suasana.2) sistem pendidikan islam itu selalu memperbarui diri atau dinamis dengan perubahan yang terjadi.
d. Bersifat ilmiah
Pendidikan islam haruslah memandang sains dan tegnologi sebagai komponen terpenting dari peradaban modern, dan memberi perhatian khusus ke berbagai sains dan teknik modern dalam kurikulum dan berbagai aktivitas pendidikan, hanya ia harus sejalan dengan semangat islam.
e. Bersifat Prakital
Kurikulum pendidikan islam tidak hanya bisa bicara secara teoritis saja, namun ia harus dipraktekan. Karena ilmu tak akan berhasil jika dipraktekan atau realita.
3. Prioritas dalam tindakan
a. menyekolahkan semua anak yang mencapai usia sekolah, dan membuat rancangan agar mereka memperoleh pendidikan dan ketrampilan.
b. Penganekaragaman jalur pengembangan disemua tahap pendidikan dan pembimbingnya ke arah fleksibel.
c. Meninjau kembali materi dan metode pendidikan (kurikulum) supaya sesuai dengan semangat islam dan ajaran-ajaranya, dan bagi berbagai kebutuhan ekonomi, teknik, dan sosial.
d. Administrasi dan perencanaan. Pada tahap administrasi patutlah dimudahkan hubungan yang fleksibel pada administrasi, pembentukan teknisi-teknisi yang mampu, dan mempraktekan sistem desentralisasi.
B. Strategi Pendidikan yang Bersifat Mikro
Maksudnya dalam pelaksanaan strategi pendidikan yang bersifat mikro adalah dalam pelaksanaanya yaitu secara individu. Ruang lingkup strategi ini lebih menitikberatkan pada strategi yang harus dilakukan oleh individu seorang muslim pakar-pakar dalam bidang pendidikan memusatkan pada metode tazkiyah.
Kamis, 10 November 2011
BAB V
PERANAN TEGNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN
Secara operasional tegnologi pendidikan dapat dikatakan sbagai proses yang bersistemdalam membantu memecahkan masalah belajar pada manusia. Kegiatan yang bersistem mengandung dua arti, yaitu yang sistematik atau beraturan, dan kedua sistematik atau beracuan pada konsep sistem. Kegiatan yang beraturan adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang dilakuka oleh langkah-langkah mengkaji kebutuhan itu sendiri terlebih dahulu, kemudian merumuskan tujuan, mengidentifikasi kemungkinan pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan kendala yang ada, menentukan kriteria pemilihan kemungkinan, memilih kemungkinan yang terbaik, mengembangkan dan menguji cobakan kemungkinan yang dipilih, melaksanakan hasil pengembangan, dan mengevaluasi keseluruhan kegiatan maupun hasilnya.
Wotruba and Wright berdasarkan pengkajianya atas sejumlah penelitian, mengidentifikasikan tujuh indikator yang menunjukan pembelajaran yang efektif. Indikator itu adalah :
1. Pengorganisasian kuliah dengan baik
2. Komunikasi secara efektif
3. Penguasaan dan antusiasme dalam mata kuliah
4. Sikap positif mahsiswa
5. Pemberian ujian dan nilai yang adil
6. Keluwesan dan pendekatan pengajaran
7. Hasil belajar mahasiswa yang baik
PERANAN TEGNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN
Secara operasional tegnologi pendidikan dapat dikatakan sbagai proses yang bersistemdalam membantu memecahkan masalah belajar pada manusia. Kegiatan yang bersistem mengandung dua arti, yaitu yang sistematik atau beraturan, dan kedua sistematik atau beracuan pada konsep sistem. Kegiatan yang beraturan adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang dilakuka oleh langkah-langkah mengkaji kebutuhan itu sendiri terlebih dahulu, kemudian merumuskan tujuan, mengidentifikasi kemungkinan pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan kendala yang ada, menentukan kriteria pemilihan kemungkinan, memilih kemungkinan yang terbaik, mengembangkan dan menguji cobakan kemungkinan yang dipilih, melaksanakan hasil pengembangan, dan mengevaluasi keseluruhan kegiatan maupun hasilnya.
Wotruba and Wright berdasarkan pengkajianya atas sejumlah penelitian, mengidentifikasikan tujuh indikator yang menunjukan pembelajaran yang efektif. Indikator itu adalah :
1. Pengorganisasian kuliah dengan baik
2. Komunikasi secara efektif
3. Penguasaan dan antusiasme dalam mata kuliah
4. Sikap positif mahsiswa
5. Pemberian ujian dan nilai yang adil
6. Keluwesan dan pendekatan pengajaran
7. Hasil belajar mahasiswa yang baik
Selasa, 08 November 2011
KEGUNAAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
1. Media mampu memberikan rangsangan pada otak kita, sehingga otak kita dapat berfungsi secara optimal.
2. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para mahasiswa.
3. Media dapat melampaui batas ruang kelas.
4. Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara mahasiswadan lingkunganya.
5. Media menghasilkan keseragaman pengamatan.
6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar.
8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari sesuatu yang konkret maupun abstrak.
9. Media memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar mandiri, pada tempat dan waktu serta kecepatan yang ditentykan sendiri.
10. Media mampu meningkatkan efek sosialisasi, yaitu dengan meningkatkanya kesadaran akan dunia sekitar.
11. Media mampu meningkatan kemampuan keterbacaan baru.
12. Media dapat meingkatkan kemampuan ekspresi diri dosen maupun mahasiswa.
1. Media mampu memberikan rangsangan pada otak kita, sehingga otak kita dapat berfungsi secara optimal.
2. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para mahasiswa.
3. Media dapat melampaui batas ruang kelas.
4. Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara mahasiswadan lingkunganya.
5. Media menghasilkan keseragaman pengamatan.
6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar.
8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari sesuatu yang konkret maupun abstrak.
9. Media memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar mandiri, pada tempat dan waktu serta kecepatan yang ditentykan sendiri.
10. Media mampu meningkatkan efek sosialisasi, yaitu dengan meningkatkanya kesadaran akan dunia sekitar.
11. Media mampu meningkatan kemampuan keterbacaan baru.
12. Media dapat meingkatkan kemampuan ekspresi diri dosen maupun mahasiswa.
BAB IV
MEDIA PEMBELAJARAN
Pengertian media pembelajaran
Istilah media yang merupakan bentuk jamak dari medium secara harfiah berarti perantara atau pengantar. AECT mengartikan media sebagai segala bentuk dan saluran untuk proses transmisi informasi.sedang olson mendefenisikan medium sebagai tegnologi untuk menyajikan, merekam, membagi, dan menstribusikan simbol dengan melalui rangsangan indra tertentu, disertai perstukturan informasi.
Istilah pembelajaran digunakan untuk menunjukan usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksankan, serta yang pelaksanaanya terkendali. Perlu ditegaskan bahwa dalam proses pendidikan sering kali seseorang belajar tanpa disengaja, tanpa tahu tujuanya terlebih dahulu, dan tidak selalu terkendalikan baik dalam artian isi, waktu, proses, maupun hasilnya,
MEDIA PEMBELAJARAN
Pengertian media pembelajaran
Istilah media yang merupakan bentuk jamak dari medium secara harfiah berarti perantara atau pengantar. AECT mengartikan media sebagai segala bentuk dan saluran untuk proses transmisi informasi.sedang olson mendefenisikan medium sebagai tegnologi untuk menyajikan, merekam, membagi, dan menstribusikan simbol dengan melalui rangsangan indra tertentu, disertai perstukturan informasi.
Istilah pembelajaran digunakan untuk menunjukan usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksankan, serta yang pelaksanaanya terkendali. Perlu ditegaskan bahwa dalam proses pendidikan sering kali seseorang belajar tanpa disengaja, tanpa tahu tujuanya terlebih dahulu, dan tidak selalu terkendalikan baik dalam artian isi, waktu, proses, maupun hasilnya,
Langganan:
Postingan (Atom)